Berdasarkan data BPS Januari 2012, neraca perdagangan dengan China defisit Rp 10,6 triliun. Pencapaian ini meningkat bila dibanding Januari 2011 yang sebesar Rp 5,9 triliun.
Defisit tersebut terjadi karena adanya peningkatan pada impor produk asal China. Salah satunya buah-buahan naik 34%. Empat produk impor yang juga mengalami peningkatan adalah kapas naik (45%), kendaraan dan bagiannya naik (29%), besi dan baja (15,5%), serta bahan organik 20%.
Khusus untuk buah-buahan, sepanjang tahun 2011 impor yang tercatat mencapai Rp 3,7 triliun dan Januari 2012 sebesar Rp 563,7 miliar, melonjak hingga 34% pada awal tahun 2012, jika dibanding periode Desember 2011.
Laju impor buah asal China nampaknya masih akan terus berlanjut. Salah satu penyebabnya adalah harga buah asal China disebut dua kali lebih murah. Harga buah kiwi asal China, misalnya, bisa diperoleh dengan harga jual Rp 5.000 per kilogram (kg). Sementara buah kiwi impor dari Australia atau Selandia baru harganya mencapai Rp 18.000 per kg.
Selain harga yang murah, buah impor dari China konsisten dalam hal pasokan yang bisa secara terus-menerus. Namun begitu, kualitas buah asal China kalah dibandingkan buah impor dari negara lainnya.
Benny Kusbini, Ketua Dewan Hortikultura Indonesia, membenarkan fenomena tersebut di atas. Ia bilang, buah dari China terkenal murah karena adanya kerjasama ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA). Dampak dari kerjasama perdagangan itulah yang membuat impor buah asal China melonjak hingga 500%, ujarnya belum lama ini.
Menurut Benny, China sangat konsisten menerapkan teknologi dalam hal pembudidayaan buah. Oleh karena itulah, China menguasai pasar impor produk hortikultura hingga 70%. [Merissa Tjia / Surabaya]