Kerusuhan sudah terjadi sejak Jumat (7/12/2012) di kota Dongxing, Wilayah Otonomi Gungxi Zhuang. Para pengunjuk rasa menghancurkan sejumlah kantor polisi serta mobil pasukan penjaga perbatasan. Mereka juga terlibat perkelahian dengan pasukan keamanan setempat.
"Lima orang polisi luka dan sembilan mobil petugas anti-penyelundupan hancur. Tidak ada yang terbunuh," demikian Biro Keamanan Publik Prefektur Fangchenggang yang wilayah kerjanya meliputi Dongxing menyampaikan kondisi wilayah itu lewat jejaring sosial, Jumat malam.
Berdasarkan Pusat Informasi untuk HAM dan Demokrasi yang berpusat di Hong Kong, sebanyak 10.000 orang berpartisipasi dalam unjuk rasa yang rusuh itu. Berbeda dengan pernyataan aparat China, lembaga ini menyebut 100 orang luka dan tewas akibat insiden itu.
Kerusuhan itu muncul setelah warga lokal di kota Dongxing melihat seorang pengendara sepeda motor diperlakukan kasar oleh para petugas anti-penyelundupan setelah motor orang itu menabrak mobil petugas.
"Beberapa orang mengira pengendara motor itu tewas dan mereka menahan mobil polisi itu. Mereka lalu membalikkan mobil dan membakarnya," papar pejabat setempat.
Polisi memperkirakan sekitar 1.000 orang terlibat kerusuhan itu, namun hanya segelintir orang yang dianggap melanggar hukum.
Serangkaian foto yang diunggah ke internet memperlihatkan barisan mobil aparat keamanan yang terguling dan terbakar. Sejauh ini, upaya melakukan konfirmasi ke pemerintah Donxing belum berhasil.
Sejumlah pakar memperkirakan China mengalami setidaknya 180.000 unjuk rasa tahun lalu terkait berbagai masalah termasuk korupsi, perampasan tanah oleh pemerintah, kebrutalan polisi dan gaji yang belum dibayar. [Miao Miao / Beijing] Sumber: Asiaone